Posted by: sopwan hadi | May 16, 2010

Psikologi Pendidikan (1)

BAB I

HAKEKAT PSIKOLOGI PENDIDIKAN

PENGERTIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Psikologi pendidikan merupakan penerapan prinsip dan metode psikologi untuk mengkaji perkembangan, belajar, motivasi, pembelajaran, penilaian, dan isu-isu terkait lainnya yang mempengaruhi interaksi belajar mengajar.

MANFAAT PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Psikologi pendidikan bermanfaat untuk:

- Membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.

- Membantu pendidik dalam memahami karakteristik peserta didik.

- Memahami proses belajar peserta didik.

- Memilih dan menggunakan berbagai strategi dalam pembelajaran.

- Membantu pendidik untuk melakukan penilaian terhadap kegiatan belajar atau perolehan hasil belajar yang telah dicapai peserta didik.

HAKEKAT PENDIDIK PROFESIONAL

Pendidik yang bermutu adalah pendidik yang:

- Menunjukkan seperangkat kompetensi sesuai dengan standar yang berlaku.

- Mampu bekerja dengan menerapkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi.

- Mematuhi kode etik profesi pendidik.

- Bekerja dengan penuh dedikasi.

- Membuat keputusan secara mandiri ataupun secara bersama-sama.

- Menunjukkan akuntabilitas kerjanya kepada pihak-pihak terkait.

- Bekerjasama dengan pihak lain yang relevan.

- Secara berkesinambungan mengembangkan diri baik secara mandiri ataupun melalui asosiasi profesi.

KOMPETENSI PENDIDIK

PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional dan UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa pendidik wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik itu diperoleh melalui pendidikan Sarjana atau program Diploma IV. Sedangkan kompetensi pendidik tersebut meliputi:

1. Kompetensi Paedagogik

-   Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional dan intelektual.

-   Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.

-   Menguasai kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.

-   Terampil melakukan kegiatan pengembangan yang mendidik.

-   Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.

-   Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

-   Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun  dengan peserta didik.

-   Terampil melakukan penilaian dan evaluasi  proses dan hasil belajar.

-   Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.

-   Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

2. Kompetensi kepribadian

-   Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan Indonesia.

-   Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

-   Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa.

-   Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi pendidik dan rasa percaya diri.

-   Menjunjung tinggi kode etik profesi pendidik.

3. Kompetensi profesional

-   Menguasai materi, stuktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

-   Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.

-   Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.

-   Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.

-   Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

4. Kompetensi sosial

-   Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.

-   Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.

-   Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.

-   Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

BAB II

HAKEKAT PERKEMBANGAN

PENGERTIAN PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN

Perkembangan    = Perubahan progesif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.

Perkembangan berkaitan dengan perubahan secara kualitatif.

Pertumbuhan      = Perubahan yang terjadi secara kuantitatif yang meliputi peningkatan ukuran dan struktur.

PRINSIP-PRINSIP PERKEMBANGAN

Menurut Baltes:      – Perkembangan berlangsung sepanjang hayat.

-  Perkembangan bersifat multidimensional (digambarkan melalui banyak kriteria) dan multidireksional (dicapai melalui berbagai cara).

- Perkembangan mencakup aspek pertumbuhan dan penurunan.

- Perkembangan bersifat lentur.

- Perkembangan berada dalam latar tertentu dan historik.

Menurut Ruffin: – Perkembangan berproses dari kepala menuju kaki.

-   Perkembangan berproses dari tubuh bagian dalam menuju tubuh bagian luar.

-   Perkembangan bergantung pada kematangan dan belajar.

-   Perkembangan berproses dari sederhana menuju kompleks.

-   Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses berkesinambungan.

-   Pertumbuhan dan perkembangan berproses dari kecakapan umum menuju kecakapan spesifik.

-   Tingkat pertumbuhan dan perkembangan bersifat individual.

TEORI-TEORI PERKEMBANGAN

1. Teori Continuity dan Discontinuity

Teori Continuity        = Perkembangan merupakan proses yang berkesinambungan.

Teori Discontinuity= Perkembangan merupakan proses yang tidak berkesinambungan.

2. Teori kematangan dan perubahan

Teori kematangan   = Manusia menunjukkan stabilitas pada aspek-aspek perkembangannya.

Teori perubahan     = Emosi manusia dapat diubah oleh lingkungan.

BAB III

PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN BAHASA

PANDANGAN PIAGET TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF

Piaget menjabarkan 4 konsep pokok dalam perkembangan kognitif, yaitu:

- Skema         : Menggambarkan tindakan mental dan fisik dalam mengetahui dan memahami objek.

- Asimilasi      : Memasukkan informasi ke dalam skema yang telah dimiliki.

- Akomodasi  : Proses mengubah skema yang telah dimiliki dengan informasi baru.

- Ekuilibrium   : Perpindahan dari satu tahapan berpikir ke tahapan berpikir berikutnya.

Piaget dalam memahami karakteristik perkembangan kognitif didasarkan pada usia tertentu sesuai tahapannya. Tahapan tersebut yaitu:

1. Tahap sensorimotorik (0-2 tahun)

Bayi menyusun pemahaman dunianya dengan mengkoordinasikan pengalaman indera (sensori) dengan gerakan otot (motorik).

2. Tahap preoperasional (2-7 tahun)

Dibagi menjadi 2 yaitu:

- simbolis (2-4 tahun): Anak mampu mempresentasikan obyek yang tidak nampak dan penggunaan bahasa mulai berkembang.

- intuitif (4-7 tahun): Anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan.

3. Tahap operasional kongkret (7-11 tahun)

Anak mampu mengoperasionalkan berbagai logika, namun masih dalam bentuk benda kongkret.

4. Tahap operasional formal (11-15 tahun)

Anak mampu berpikir abstrak, idealis, dan logis.

PANDANGAN BRUNER TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF

Bruner menjabarkan 6 konsep pokok dalam perkembangan kognitif, yaitu:

-   Perkembangan intelektual ditandai oleh meningkatnya variasi respon terhadap stimulus.

-   Pertumbuhan tergantung pada perkembangan intelektual dan sistem pengolahan informasi yang dapat menggambarkan realita.

-   Perkembangan intelektual memerlukan peningkatan kecakapan untuk mengatakan pada dirinya sendiri dan orang lain melalui kata-kata atau simbol.

-   Interaksi antara guru dengan siswa sangat penting bagi perkembangan kognitif.

-   Bahasa menjadi kunci perkembangan kognitif.

-   Pertumbuhan kognitif ditandai oleh semakin meningkatnya kemampuan menyelesaikan berbagai alternatif secara simultan.

Bruner dalam memahami karakteristik perkembangan kognitif didasarkan pada tingkah lakunya sesuai tahapannya. Tahapan tersebut yaitu:

1. Tahap enaktif

Anak mulai memahami lingkungannya.

2. Tahap ikonik

Anak membawa informasi yang didapatnya melalui imageri. Karakteristik tunggal pada obyek yang diamati dijadikan sebagai pegangan, dan pada akhirnya anak mengembangkan memori visual.

3. Tahap simbolik

Anak berkembang pemahaman perseptualnya dan “tindakan tanpa pemikiran terlebih dahulu” juga sudah berkembang. Anak mampu menyusun gagasannya secara padat.

PANDANGAN VIGOTSKY TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF

Vigotsky menjabarkan 3 konsep pokok dalam perkembangan kognitif, yaitu:

- Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental (dengan cara memeriksa asal-usul dan transformasinya dari bentuk awal ke bentuk selanjutnya).

- Kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransormasi aktivitas mental.

-   Kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.

Vigotsky juga mengemukakan beberapa ide mengenai zone of proximal developmental (ZPD) yaitu serangkaian tugas sulit yang dikuasai anak secara sendirian, tetapi dapat dipelajari dengan bantuan orang dewasa atau yang lebih mampu.

PANDANGAN CHOMSKY TENTANG PERKEMBANGAN BAHASA

Perkembangan bahasa merupakan proses untuk memperoleh bahasa, menyusun tatabahasa dari ucapan-ucapan, memilih ukuran penilaian tatabahasa yang paling tepat dan paling sederhana dari bahasa tersebut.

Perkembangan bahasa dapat dijelaskan melalui 2 pendekatan yaitu:

- Navistik:    Menurut kaum navistik yang dipelopori oleh Chomsky, struktur bahasa telah ditentukan secara biologis yang dibawa sejak lahir.

- Empiristik:    Menurut kaum empiris, yang dipelopori kaum Behavioris, kemampuan berbahasa merupakan hasil belajar individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. Penggunaan bahasa merupakan hasil dari penyatupaduan peristiwa-peristiwa linguistik yang dialami selama masa perkembangannya.

Chomsky dalam memahami karakteristik perkembangan bahasa membagi beberapa tahapan. Tahapan tersebut yaitu:

1. Tahap pralinguistik (0,3 – 1 tahun)

Anak mulai mengeluarkan bunyi ujaran dalam bentuk ocehan yang mempunyai fungsi komunikatif.

2. Tahap halofrastik/kalimat satu kata (1 – 1,8 tahun)

Anak mulai mengucapkan kata-kata pertamanya.

3. Tahap kalimat dua kata (1,8 – 2 tahun)

Anak menyatakan maksud dan berkomunikasi dengan menggunakan kalimat dua kata.

4. Tahap perkembangan tatabahasa (2 – 5 tahun)

Anak mulai mengembangkan sejumlah sarana tatabahasa, panjang kalimat bertambah, ucapannya semakin kompleks dan mulai menggunakan kata jamak dan tugas.

5. Tahap perkembangan tatabahasa menjelang dewasa (5 – 10 tahun)

Anak mulai mengembangkan struktur tatabahasa yang lebih rumit, melibatkan gabungan kalimat sederhana dengan komplementasi, relativasi, dan konjugasi.

6. Tahap kompetensi lengkap (11 tahun sampai dewasa)

Pembendaharaan kata terus meningkat, gaya bahasa mengalami perubahan, semakin lancar dan fasih berkomunikasi dengan bahasa.

Dalam aktivitas berpikir, di dalamnya melibatkan bahasa. Berpikir merupakan percakapan dalam hati. Bahasa merupakan alat untuk berpikir dan bahasa mengekspresikan hasil pemikiran tersebut. Jadi berpikir dan berbahasa merupakan dua aktivitas yang saling melengkapi dan terjadi dalam waktu yang relatif bersamaan. Kemampuan berpikir seseorang menentukan kemampuan berbahasanya. Sebaliknya, kemampuan berbahasa seseorang merupakan cerminan kemampuan berpikirnya.

BAB IV

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL DAN MORAL

PERKEMBANGAN PERSONAL DAN SOSIAL

Pakar psikologi yang mengembangkan teori perkembangan personal dan sosial adalah Erik Erikson. Dia menyatakan bahwa seseorang dalam kehidupannya akan melewati delapan tahap psikososial, yaitu:

1. Tahap kepercayaan VS ketidakpercayaan (0 – 1 tahun)

Jika pada tahap ini bayi diasuh dengan rasa nyaman maka akan timbul kepercayaan. Apabila diasuh dengan negatif atau diabaikan akan menimbulkan rasa ketidakpercayaan.

2. Tahap otonomi VS malu dan ragu (1 – 2 tahun)

Pada tahap ini jika bayi mempercayai pengasuhnya, mereka akan menegaskan independensi dan menyadari kehendaknya sendiri. Jika bayi terlalu banyak dibatasi, mereka akan mengembangkan sikap malu dan ragu.

3. Tahap inisiatif VS rasa bersalah (3 – 5 tahun)

Pada tahap ini anak akan mempunyai inisiatif apabila mengemban tanggung jawab. Anak akan merasa bersalah bila tidak bertanggung jawab dan merasa cemas.

4. Tahap upaya VS inferioritas (6 – 10 tahun)

Saat imajinasi mereka berkembang, anak yang punya inisiatif akan bersemangat untuk belajar. Bahayanya, anak menjadi rendah diri, tidak produktif dan inkompetensi.

5. Tahap identitas VS kebingungan (10 – 20 tahun)

Pada tahap ini, apabila remaja diberi kesempatan untuk melakukan eksplorasi guna memahami identitasnya, remaja akan menemukan identitasnya. Bila tidak diberi kesempatan remaja akan mengalami kebingungan mengenai identitas dirinya.

6. Tahap intimasi VS isolasi (20 – 40 tahun)

Pada tahap ini, setelah menemukan identitasnya, orang akan mulai membentuk hubungan yang positif dengan orang lain. Bila tidak, orang akan terisolasi secara sosial.

7. Tahap generativitas VS stagnasi (40 – 60 tahun)

Pada tahap ini orang dewasa akan membantu generasi muda untuk mengembangkan hidup yang berguna. Di sisi lain ada pula orang dewasa yang tidak melakukan apapun untuk membantu generasi muda.

8. Tahap integritas VS putus asa (60 tahun ke atas)

Pada tahap ini orang tua akan merenungi kembali hidupnya. Apabila evaluasinya positif, mereka akan mengembangkan rasa integritas. Apabila evaluasinya negatif, mereka akan putus asa.

Perkembangan sosial lebih diwarnai dengan dua aktivitas yang berlawanan yaitu otonomi dan keterikatan. Di sisi lain remaja dapat mengatur diri sendiri dan mencapai kebebasan (otonomi), di sisi lain remaja masih terikat hubungan dengan orang tua.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial antara lain:

- keluarga       : Cara mendidik anak yang digunakan orang tua sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anak.

- sekolah        : Di sekolah, guru memasukkan pengaruhnya terhadap sosialisasi anak.

- masyarakat  : Penerimaan dan penghargaan secara baik dari masyarakat terhadap diri anak mendasari perkembangan sosial yang sehat, citra diri yang positif dan rasa percaya diri yang mantap.

PERKEMBANGAN PERASAAN DAN EMOSI

Perasaan berkaitan dengan emosi. Emosi bersifat intens daripada perasaan, lebih ekspresif dan ada kecenderungan untuk meletus. Emosi dapat timbul dari kombinasi beberapa perasaan. Emosi juga mempengaruhi tingkah laku. Ada beberapa teori yang membahas hubungan antara emosi dan tingkah laku.

1. Teori Sentral= Perubahan jasmani timbul akibat emosi.

2. Teori Perifir= Perubahan psikologis yang terjadi dalam emosi disebabkan adanya perubahan fisiologis.

3. Teori Kedaruratan Emosi= Emosi merupakan reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi darurat.

Emosi dipengaruhi oleh:

* Kondisi yang ikut mempengaruhi emosi dominan:

- kondisi kesehatan                                               – hubungan dengan teman sebaya

- kondisi rumah                                                     – perlindungan yang berlebihan

- cara mendidik anak                                            – aspirasi orang tua

- hubungan dengan para anggota keluarga             – bimbingan

* Kondisi yang menunjang timbulnya emosionalitas yang menguat:

- kondisi fisik

- kondisi psikologis

- kondisi lingkungan

Ragam faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi seseorang menyebabkan reaksi yang dimunculkan oleh individu-individu terhadap suatu keadaan tidaklah sama antara individu yang satu dengan individu yang lain. Hal tersebut karena perasaan atau emosi bersifat subjektif dibandingkan peristiwa psikis yang lain. Selain itu karena perasaan berhubungan dengan pengenalan atau pengalaman seseorang.

PERKEMBANGAN MORAL

1. Pandangan Piaget

Piaget membagi 2 tahap perkembangan moral yaitu:

Tahap Heteronomous Tahap Otonomous
Penalaran model didasarkan pada hubungan keterpaksaan Penalaran moral didasarkan pada hubungan kerjasama, pengakuan bersama antar kesamaan individu dan setiap individu dianggap sama
Penalaran moral didasarkan pada realisme moral. Aturan dianggap sebagai sesuatu yang kaku, berasal dari luar dirinya dan dipegang oleh orang yang berkuasa, tidak terbuka untuk bernegosiasi, kebenaran berkaitan dengan ketaatan pada orang dewasa dan aturan. Penalaran moral direfleksikan pada sikap moral yang rasional. Aturan dianggap sebagai produk dari kesepakatan bersama, terbuka untuk negosiasi ulang, dilegitimasi oleh setiap orang, kebenaran berkaitan dengan kegiatan yang sesuai dengan persyaratan kerjasama dan saling menghormati
Kejahatan dinilai dari konsekuensi atas tindakan, keadilan disamakan dengan isi keputusan orang dwasa, kesewenag-wenangan dan hukuman dipandang sebagai keadilan. Hukuman dipandang sebagai konsekuensi dari pertahanan Kejahatan dipandang sebatas perilaku yang bersikap relatif, keadilan diperlakukan secara sama atau memperhitungkan kebutuhan individu. Kewajaran hukuman dimaknai melalui kelayakan terhadap pertahanan.

2. Pandangan Kolhberg

Kolhberg menyusun teori perkembangan moral terdiri dari 3 level utama dengan 2 tahap pada setiap levelnya. Konsep penting memahami perkembangan dari teori Kolhberg adalah internalisasi, artinya perubahan perkembangan dari perilaku yang dikontrol secara eksternal ke perilaku yang dikontrol secara internal.

LEVEL 1

Prakonvensional

Tidak ada internalisasi

LEVEL 2

Konvensional

Internalisasi pertengahan

LEVEL 3

Postkonvensional

Internalisasi penuh

Tahap 1

Heteronomous morality

Tahap 2

Individualisme, tujuan dan pertukaran

Tahap 3

Ekspetasi interpersonal mutual, hubungan dan konformitas interpersonal

Tahap 4

Moralitas sistem sosial

Tahap 5

Kontrak sosial/ utilitas dan hak individu

Tahap 6

Prinsip etika universal

Anak patuh karena orang dewasa menyuruh mereka untuk patuh. Orang mendasarkan pada keputusan moralnya karena takut hukuman. Individu mengejar kepentingannya sendiri, tetapi membiarkan orang lain melakukan hal yang sama. Apa yang benar melibatkan pertukaran yang seimbang. Individu menggunakan rasa percaya, perhatian, dan loyalitas kepada orang lain sebagai basis untuk penilaian moral. Penilaian moral didasarkan pada pemahaman dan aturan sosial, hukum, keadilan dan kewajiban. Individu memahami bahwa nilai, hak, dan prinsip mendasari atau mengatasi hukum. Orang telah mengembangkan penilaian moral berdasarkan hak asasi manusia yang universal ketika berhadapan dengan dilema antara hukum dan kesadaran, yang akan diikuti adalah kesadaran individual seseorang
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: