Posted by: sopwan hadi | May 11, 2010

Sekolah Efektif

Salah satu masalah yang sangat serius dalam bidang pendidikan di tanah air kita saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Banyak pihak berpendapat bahwa rendahnya mutu pendidikan merupakan salah satu faktor yang menghambat penyediaan sumber daya manusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi tuntutan pembangunan bangsa di berbagai bidang. Rendahnya mutu pendidikan terkait dengan skenario yang dipakai oleh pemerintah dalam membangun pendidikan, yang selama ini lebih menekankan pada pendekatan input and output.
Pemerintah berkeyakinan bahwa dengan meningkatkan mutu input maka dengan sendirinya akan dapat meningkatkan mutu output. Dengan keyakinan tersebut, kebijakan dan upaya yang ditempuh pemerintah adalah pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, pengadaan guru, menatar para guru, dan menyediakan dana operasional pendidikan secara lebih memadai. Kenyataan tersebut memberi gambaran umum bahwa pendekatan input and output secara makro belum menjamin peningkatan mutu sekolah dalam rangka meningkatkan dan meratakan mutu pendidikan. Hal ini tidak saja terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di negara-negara lain. Hasil penelitian untuk sekolah dasar negeri di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan bahwa input sekolah mempunyai pengaruh yang kecil terhadap hasil belajar siswa (Scheerens, 1992).
Pendekatan input and output yang bersifat makro tersebut kurang memperhatikan aspek yang bersifat mikro yaitu proses yang terjadi di sekolah. Dengan kata lain, dalam membangun pendidikan, selain memakai pendekatan makro juga perlu memperhatikan pendekatan mikro yaitu dengan memberi fokus secara lebih luas pada institusi sekolah yang berkenaan dengan kondisi keseluruhan sekolah seperti iklim sekolah dan individu-individu yang terlibat di sekolah baik guru, siswa, dan kepala sekolah serta peranannya masing-masing dan hubungan yang terjadi satu sama lain. Dalam kaitan ini Brookover (1979) mengungkapkan bahwa input sekolah memang penting tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana mendayagunakan input tersebut yang terkait dengan individu-individu di sekolah.
Pengertian Sekolah Efektif
Efektifiyas sekolah merupakan fenomena yang mengandung banyak segi, sedikit sekali orang yang dapat  memeksemalkan keefektifan sesuai dengan keefektifan itu sendiri. Sekolah efektif sebagai sekolah yang menerapkan keberhasilan pada input, output, outcome yang ditandai dengan berkualitasnya komponen-komponen sistem tersebut (Cameron & Whetten dalam komariah & Triatna). Sedangkan menurut Sergiovanni (1995:75) menyebutkan sekolah efektif dengan membandingkan antara sekolah efektif dan sekolah sukses. Sekolah efektif dipahami dengan kemampuan siswanya pada keterampilan dasar yag diukur dengan tes kemampuan, sedangkan sekolah sukses mempunyai kesan lebih komprehensip ekspansif dan lebih konsisten dengan kualitas sekolah yang tinggi. Menurut Allan A. Glatthron (1990:2-17), sekolah efektif adalah sekolah yang mempunyai beberapa karakteristik yaitu: adanya organizational leadeshhip (kepemimpinan organisasi), curricullun leadership (kepemimpinan kurikulum), supervisory leadership (pemimpin sebagai pengawas), dan management(manajemen).
Beberapa faktor yang berhubungan dengan fungsiyang menjamin bahwa organisasi itu dapat mengadakan pembaharuan sendiri , dengan berorientasi pada pemecahan masalah :
1.    Nilai – nilai budaya dan dukungan yang baik.
2.    Sekolah mempunyai misi yang jelas , untuk mengembangkan siswa secara optimal.
3.    Adanya kebijakan sekolah yang memudahkan pencapaian tujuan.
4.    Adanya keseimbangan yang optimal antara “tight’ dan “loose”.
Dengan demikian sekolah efektif adalah sekolah yang menunjukkan tingkat kesesuaian antara hasil yang dicapai ( achievement atau observed output ) dengan hasil yang diharapkan ( objectives, targets, intended output )sebagaimana telah ditetapkan dimana kemampuan siswanya pada keterampilan dasar diukur dengan tes kemampuan dan dalam proses penyelenggaraannya terdapat dimensi manajemen, pengajaran, dan kepemimpinan.
Ciri Sekolah Efektif
David A. Squires, et.al. (1983) berhasil merumuskan ciri-ciri sekolah efektif yaitu: (1) adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan di sekolah; (2) memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas; (3) mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi; (4) siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan; (5) siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan akademik; (6) adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi; (7) siswa berpendapat kerja keras lebih penting dari pada faktor keberuntungan dalam meraih prestasi; (8) para siswa diharapkan mempunyai tanggungjawab yang diakui secara umum; dan (9) kepala sekolah mempunyai program inservice, pengawasan, supervisi, serta menyediakan waktu untuk membuat rencana bersama-sama dengan para guru dan memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan prestasi akademiknya.
Deskripsi berbagai teori mengenai sekolah efektif secara lebih terinci adalah sebagai berikut.
1.       Visi dan misi yang jelas
Memuat harapan  yang tinggi kepada siswa untuk belajar dan berbuat dengan mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Mengarahkan perkembangan siswa secara menyeluruh: intelektual, sosial, religi, emosi dan fisik secara maksimal.
2.       Kepala sekolah yang professional
Kepala Sekolah yang professional memiliki lima kompetensi: Keperibadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi dan Sosial (KEMANA KAU SUSI). Kepala Sekolah memimpin secara efektif untuk mencapai visi dan misi, mampu bekerja sama dengan guru, komite, masyarakat dan badan lainnya serta mampu belajar secara berkesinambungan dan melakukan pengembangan diri. Kinerja Kepala Sekolah antara lain melakukan:
•    penyusunan RPS (Rencana Pengembangan Sekolah)
•    penyusunan RAPBS (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah)
•    Kepemimpinan dan
•    Pengelolaan manajemen asset
3.      Guru yang professional
•    Mengembangkan keterampilan berfikir kritis, memecahkan masalah, dan kreatifitas siswa.
•    Mempunyai sikap yang positif dan moral yang tinggi.
•    Melakukan belajar berkesinambungan dan pengembangan profesi
Kinerja Guru:
a)    Penyusunan Kurikulum (KTSP)
b)    Penyusunan Silabus
c)    Penyusunan RPP
d)    Pengembangan Bahan Ajar
e)    Pengembangan Alat Penilaian
f)    Pembelajaran Efektif (Peer Assessment)
g)    MGMP/KKM/KKG
h)    Kerjasama dengan Paguyuban Kelas
4.       Lingkungan belajar yang kondusif
•    Bersih, aman, nyaman, hangat.
•    Dapat menstimulasi anak untuk betah belajar & beraktivitas.
•    Tempat bagi semua orang untuk saling mendukung melalui hubungan yang positif.
•    Mempunyai aturan yang jelas dan sensibel.
•    Mempromosikan rasa saling memiliki dan kebanggaan terhadap sekolah.
5.       Ramah siswa
•    Mengembangkan potensi siswa dengan maksimal.
•    Menangani kesulitan siswa secara efektif dan efisien.
•    Peka terhadap kebutuhan dan latar belakang siswa.
•    Berhubungan dengan layanan dan sumber yang ada di luar sekolah, misalnya pusat kesehatan, pusat kebudayaan, pusat olah raga dan rekreasi
•    Tersedianya tempat panjangan karya siswa
6.       Manajemen yang kuat
•    Memberdayakan potensi dan sumber sekolah secara efektif.
•    Mengembangkan program dengan warga dan stakeholders.
•    Mengambil keputusan secara kolaboratif.
7.       Kurikulum yang luas dan berimbang
•    Memberikan pembelajaran aktif dan efektif.
•    Program pembelajaran mencakup akademik, sosial, religi, kepribadian, mulok,fisik siswa.
•    Mendorong siswa mempunyai sikap positif terhadap belajar
•    Membantu siswa mengembangkan kecakapan hidup: memotivasi diri, disiplin diri
8.       Penilaian dan pelaporan prestasi siswa yang bermakna
•    Memberi informasi akurat tentang prestasi belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran dan perkembangan kemampuan sosial siswa.
•    Mengarahkan guru untuk menggunakan berbagai pendekatan mengajar yang paling sesuai.
•    Mengidentifikasi masalah belajar siswa dan cara menyelesaikannya bersama dengan orang tua.
•    Mengijinkan orang tua untuk mengobservasi dan memahami kemajuan belajar siswa.
•    Melakukan berbagai cara untuk mendukung pembelajaran efektif dan upaya meningkatkan rasa percaya diri siswa.
9.    Pelibatan masyarakat yang tinggi
•    Mendorong orang tua aktif dalam kegiatan sekolah.
•    Menekankan pentingnya kemitraan sekolah-orang tua /masyarakat agar hasil belajar maksimal.
•    Tanggap terhadap sudut pandang dan kekhawatiran orang tua.
•    Membentuk jaringan kerja luas: sekolah lain, ortu, DUDI, LSM, Organisasi pemerintah lainnya.
Kesimpulan
Dalam membangun pendidikan dan mengelola sekolah secara efektif dan efisien selain memakai pendekatan makro juga perlu memperhatikan pendekatan mikro yaitu dengan memberi fokus secara lebih luas pada institusi sekolah yang berkenaan dengan kondisi keseluruhan sekolah seperti iklim sekolah dan individu-individu yang terlibat di sekolah baik guru, siswa, dan kepala sekolah serta peranannya masing-masing dan hubungan yang terjadi satu sama lain. Dalam kaitan ini bahwa input sekolah memang penting tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana mendayagunakan input tersebut yang terkait dengan individu-individu di sekolah maupun dengan individu-individu di luar sekolah seperti komite sekolah, orang tua siswa dan masyarakat yang berada disekitarnya.
Pentingnya pemahaman terhadap keefektifan sekolah tidak saja dalam kaitan dengan meningkatkan mutu pendidikan tetapi juga sejalan dengan kebijakan nasional yaitu desentralisasi pendidikan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah yang sekaligus terkait dengan adanya otonomi sekolah. Diharapkan sekolah dapat lebih leluasa mengelola sumber daya pendidikan dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta sekolah dapat lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat dan mampu melibatkan masyarakat dalam membantu dan mengontrol pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah.
Keberhasilan sekolah dalam melaksanakan program-progamnya perlu didukung oleh semua pihak baik kepala sekolah, guru, penjaga sekolah, komite sekolah, dan masyarakat. Dengan demikian iklim sekolah akan benar-benar kondusif bagi terciptanya pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan serta terjalinnya hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat.
Apabila pilar-pilar pendidikan: sekolah, orang tua, dan masyarakat sudah benar-benar saling mendukung program-progam sekolah, maka tujuan yang diinginkan sekolah akan tercapai. Oleh karena itu penciptaan iklim sekolah yang kondusif tidak semata-mata dari aspek fisik, melainkan juga aspek psikologis dan sosial. Bahkan kalau boleh ditegaskan aspek-aspek nonfisik justru memegang peran yang sangat urgen pencapaian tujuan pendidikan sekolah.
Saran
Berdasarkan simpulan tersebut, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dengan pengelolaan sekolah secara efektif dan dan efisien serta sejalan dengan pelaksanaan desentralisasi pendidikan, para penyelenggara pendidikan baik di pusat, di daerah, maupun di sekolah perlu memperhatikan berbagai aspek yang berkenaan dengan input sekolah, kepuasan kerja guru, partisipasi orang tua siswa, dan iklim sekolah.
Disarikan  dan di himpun dari berbagai sumber,

Oleh: Sopwan Hadi,
Mahasiswa Al-Karimiyah Jurusan Tarbiyah Semester tujuh, Depok


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: