Posted by: sopwan hadi | May 22, 2010

Psikologi Pendidikan (2)

BAB V
KARAKTERISTIK DAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
PERIODE PERKEMBANGAN

1. Masa Pranatal (0-9 bulan di dalam kandungan)
– Periode ini dimulai saat pembuahan sampai dengan kelahiran.
– Pembawaan lahir (fisik, mental dan kelamin) ditentukan.
– Pertumbuhan dan perkembangan yang cepat.
– Kondisi dalam kandungan mempengaruhi potensi bawaan jabang bayi.
– Sikap orang dapat mempengaruhi jabang bayi.
2. Masa Neonatal (0-2 minggu setelah lahir)
– Periode yang tersingkat (periode Partunate= 0-30 menit setelah lahir) dan periode Neonate= 0-2 minggu setelah lahir).
– Bayi menyesuaikan dengan lingkungan yang radikal (periode yang berbahaya).
– Terhentinya perkembangan untuk sementara.
– Memberi petunjuk tentang apa yang diharapkan akan terjadi pada perkembangan selanjutnya.
3. Masa Bayi (0-2 tahun)
– Pola perilaku, sikap dan pola ekspresi terbentuk.
– Pertumbuhan dan perubahan berjalan cepat.
– Berkurangnya ketergantungan.
– Meningkatnya individualitas.
– Permulaan sosialisasi.
– Permulaan berkembangnya penggolongan peran seks.
– Permulaan kreativitas.
4. Masa kanak-kanak awal (2-5 tahun)
– Bagi orang tua merupakan usia yang mengundang masalah, usia mainan.
– Bagi pendidik merupakan masa usia prasekolah.
– Bagi pakar psikologi merupakan usia kelompok, usia menjelajah, usia bertanya, usia meniru, usia kreatif.
5. Masa kanak-kanak akhir (5-9 tahun)
– Bagi orang tua merupakan usia yang menyulitkan, usia tidak rapi, usia bertengkar.
– Bagi pendidik merupakan usia sekolah dasar, periode kritis dalam dorongan berprestasi.
– Bagi pakar psikologi merpakan usia berkelompok, usia penyesuaian diri.
6. Masa puber (9-12 tahun)
– Periode tumpang tindih (di antara masa anak-anak akhir dan masa remaja awal).
– Periode yang singkat (2-4 tahun).
– Bukan lagi seorang anak-anak tapi juga belum remaja (=masa prapuber).
– Kematangan seksual muncul (= masa puber).
– Ciri-ciri seks sekunder muncul (= masa prapuber).
7. Masa remaja (12-16 tahun)
– Periode yang penting karena berakibat langsung terhadap sikap dan perilaku.
– Periode peralihan sehingga terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan.
– Periode perubahan (fisik dan perilaku).
– Usia bermasalah.
– Remaja mulai mencari identitasnya.
– Usia yang menimbulkan ketakutan.
– Masa yang tidak realistik.
– Ambang masa dewasa yang mengakibakan remaja mulai berperilaku seperti orang dewasa.
8. Masa dewasa awal (16-30 tahun)
– Masa pengaturan yaitu mulai mengatur karir.
– Usia reproduktif yang ditandai dengan pernikahan.
– Masa bermasalah (mengenai perkawinan atau karier).
– Timbul ketegangan emosional.
– Mengalami keterasingan sosial.
– Masa komitmen untuk menentukan pola hidup baru.
– Masa ketergantungan (kadang masih bergantung kepada orang tua).
– Pandangan yang berbeda akibat perubahan nilai.
– Menyesuaikan diri dengan cara hidup baru.
– Masa kreatif.
9. Masa dewasa paruh baya (30-60 tahun)
– Periode yang sangat ditakuti (karena kerusakan mental dan fisik dan berhentinya reproduksi).
– Melakukan penyesuaian diri terhadap perubahan jasmani yang mulai menurun.
– Masa stress.
– Usia yang berbahaya (karena fisik yang menurun).
– Usia canggung (tidak muda tapi juga tidak tua).
– Masa berprestasi (kebanyakan orang mencapai prestasinya pada masa ini).
– Mengevaluasi  prestasi berdasarkan aspirasinya.
– Dievaluasi dengan standar ganda (bagi wanita dan bagi laki-laki).
– Masa sepi.
– Masa jenuh.
10. Masa lanjut usia (di atas 60 tahun)
– Periode kemunduran fisik dan mental.
– Adanya perbedaan individual pada efek menua.
– Usia tua dinilai dengan kriteria yang berbeda (dari penampilan dan kegiatan fisik).
– Adanya stereotipe orang lanjut usia yang berbeda-beda.
– Sikap sosial terhadap usia lanjut tidak menyenangkan.
– Orang usia lanjut mempunyai status kelompok minoritas.
– Menua membutuhkan perubahan peran.
– Penyesuaian diri yang buruk.
– Keinginan menjadi muda kembali sangat kuat.
TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
Menurut Havighurst tugas-tugas perkembangan pada setiap individu adalah:
1. Masa bayi dan masa kanak-kanak awal
– Belajar memakan makanan padat.
– Belajar berjalan.
– Belajar berbicara.
– Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh.
– Mempelajari perbedaan seks dan tata caranya.
– Mempersiapkan diri untuk membaca.
– Belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani.
2. Masa kanak-kanak akhir
– Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain.
– Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri.
– Belajar menyesuaikan diri dengan teman sebaya.
– Mulai mengembangkan peran sosial pria dan wanita.
– Mengembangkan keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung.
– Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
– Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, tatakrama dan tingkatan nilai.
– Mengembangkan sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga.
– Mencapai kebebasan pribadi.
3. Masa remaja
– Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya.
– Mencapai peran sosial pria dan wanita.
– Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
– Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung sosial.
– Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
– Mempersiapkan karier ekonomi.
– Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
– Memperoleh perangkat nilai dan sistem etika sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi.
4. Masa dewasa awal.
– Mulai bekerja.
– Memilih pasangan.
– Belajar hidup dengan tunangan.
– Mulai membina keluarga.
– Mengasuh anak.
– Mengelola rumah tangga.
– Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.
– Mencari kelompok sosial yang menyenangkan.
5. Masa usia paruh baya
– Mencapai tanggung jawab sosial dan dewasa sebagai warga negara.
– Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab dan bahagia.
– Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu luang.
– Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu.
– Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik.
– Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier pekerjaan.
– Menyesuaikan diri dengan orang tua yang semakin tua.
6. Masa tua
– Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan.
– Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan keluarga.
– Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup.
– Membentuk hubungan orang-orang seusia.
– Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan.
– Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara fleksibel.

BAB VI
HAKEKAT BELAJAR

Gage dan Berliner menyatakan bahwa belajar merupakan proses suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil pengalaman. Belajar mengandung 3 ciri, yaitu:
– Belajar berkaitan dengan perubahan perilaku.
– Perubahan perilaku tersebut terjadi karena didahului oleh pengalaman.
– Perubahan perilaku yang disebabkan belajar bersifat relatif permanen.
Unsur-unsur belajar: – peserta didik
– rangsangan (stimulus)
– memori
– respon
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar.
Benyamin S. Bloom menyampaikan 3 taksonomi dalam ranah belajar yaitu:
1. Ranah kognitif (cognitive domain)= Berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan kemakhiran intelektual.
Ranah kognitif mencakup:
– Pengetahuan   => Mengingat atau mengenali informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
– Pemahaman   => Memperoleh makna dari peserta didik.
– Penerapan      => Menggunakan materi peserta didik di dalam situasi baru dan kongkrit.
– Analisis          => Memecahkan material ke dalam bagian-bagian untuk memahami struktur organisasinya.
– Sintesis          => Menggabungkan bagian-bagian dalam rangka membentuk struktur baru.
– Penilaian        => Membuat keputusan tentang nilai materi peserta didik untuk tujuan tertentu.
2. Ranah afektif (affective domain)= berkaitan dengan perasaan, sikap, minat dan nilai.
Ranah afektif mencakup:
– Penerimaan            => Keinginan peserta didik untuk menghadirkan rangsangan atau fenomena tertentu.
– Penanggapan          => Partisipasi aktif pada diri peserta didik.
– Penilaian                => Nilai yang melekat pada obyek, fenomena atau perilaku tertentu pada peserta didik.
– Pengorganisasian    => Perangkaian nilai-nilai yang berbeda, memecahkan kembali konflik-konflik antar nilai, dan mulai menciptakan sistem nilai yang konsisten secara internal.
– Pembentukan pola hidup =>  Peserta didik memiliki sistem nilai yang telah mengendalikan perilakunya dalam waktu yang lamasehingga mampu mengembangkannya menjadi karakteristik gaya hidupnya.
3. Ranah psikomotorik (psychomotoric domain)= Berkaitan dengan kemampuan fisik seperti keterampilan motorik dan syaraf, manipulasi obyek, dan koordinasi syaraf.
Ranah psikomotorik mencakup:
– Persepsi                     => Penggunaan organ penginderaan untuk memperoleh petunjuk yang memandu kegiatan motorik.
– Kesiapan                   => Pengambilan tipe kegiatan tertentu.
– Gerakan terbimbing    => Tahap-tahap awal di dalam belajar keterampilan kompleks.
– Gerakan terbiasa        => Tindakan kerja di mana gerakan yang telah dipelajari itu telah menjadi biasa dan gerakan dapat dilakukan dengan sangat meyakinkan dan mahir.
– Gerakan kompleks     => Kemahiran kinerja dari tindakan motorik yang mencakup pola-pola gerakan yang kompleks.
– Penyesuaian               => Keterampilan yang dikembangkan dengan sangat baik sehingga individu dapat memodifikasi pola-pola gerakan sesuai dengan persyaratan-persyaratan baru atau ketika menemui situasi masalah baru.
– Kreativitas                 => Penciptaan pola-pola gerakan baru untuk disesuaikan dengan situasi tertentu atau masalah-masalah tertentu.
Gagne dan Briggs mengklasifikasikan tujuan peserta didik ke dalam 5 kategori yaitu:
a. Kemahiran intelektual: Kemampuan yang membuat individu kompeten.
b. Kemahiran Kognitif: Kemampuan yang mengatur perilaku belajar, mengingat dan berpikir.
c. Informasi verbal: Kemampuan yang diperoleh peserta didik dalam bentuk informasi pengetahuan verbal.
d. Kemahiran motorik: Kemampuan yang berkaitan dengan kelenturan syaraf dan otot.
e. Sikap: Kemampuan peserta didik untuk merespon sesuatu.
HIRARKI BELAJAR
Gagne menyusun Hirarki belajar yang merupakan tahap-tahap yang saling mendasari, yang dimulai dari tahapan terendah.

PRINSIP-PRINSIP BELAJAR
Ada 3 prinsip yang harus dimiliki oleh pembelajar sebelum melakukan kegiatan belajar baru.
1. Informasi faktual
Informasi yang diperoleh dengan cara:
– Dikomunikasikan kepada pembelajar.
– Dipelajari oleh pembelajar sebelum memulai belajar baru.
– Dilacak dari memori, karena informasi tersebut terpendam dalam memori pembelajar.
2. Kemahiran intelektual
Pembelajar harus memiliki berbagai cara dalam mengerjakan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan simbol-simbol bahasa dan lainnya.
3. Strategi
Setiap aktivitas belajar memerlukan pengaktifan strategi belajar dan mengingat. Pembelajar harus mampu menggunakan strategi untuk menghadirkan stimulus yang kompleks, memilih dan membuat kode bagian-bagian stimulus, memecahkan masalah, dan melacak kembali informasi yang telah dipelajari.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
1. Kondisi internal, meliputi:      – kondisi fisik: kesehatan
– kondisi psikis: kemampuan intelektual, emosional
– kondisi sosial: kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan
2. kondisi eksternal, meliputi:     – variasi dan tingkat kesulitan materi belajar
– tempat belajar
– iklim
– suasana lingkungan
– budaya belajar

BAB VII
TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Teori belajar menurut aliran ini adalah:
– Hasil belajar tidak disebabkan oleh kemampuan internal manusia tetapi karena faktor stimulus yang menimbulkan respon.
– Agar hasil belajar optimal, maka stimulus harus dirancang sedemikian rupa sehinga mudah direspon siswa.
– Siswa akan memperoleh hasil belajar apabila dapat mencari hubungan antara stimulus dan respon tersebut.
Macam-macam teori belajar menurut aliran ini adalah:
1. Teori belajar Classical Conditioning
Teori ini dikembangkan oleh Ivan Pavlov. Dia mempelajari bagaimana anjing percobaannya menjadi terkondisi untuk berliur walau tanpa makanan. Dari eksperimen tersebut Pavlov menarik kesimpulan bahwa dalam diri anjing akan terjadi pengkondisian selektif berdasar atas penguatan selektif. Anjing dapat membedakan stimulus yang disertai dengan penguatan dan stimulus yang tidak disertai dengan penguatan.
2. Teori Operant Conditioning
Teori ini dikembangkan oleh Burr Federic Skinner. Dia memandang bahwa manusia sebagai mesin yang bertindak secara teratur dan dapat diramalkan responnya terhadap stimulus yang datang dari luar. Skinne mengadakan eksperimen dengan menggunakan kotak yang didalamnya terdapat pengungkit, pemampung makanan, lampu, lantai dengan grill yang dialiri listrik (dikenal dengan nama Skinner box). Skinner menggunakan tikus lapar sebagai hewan percobaannya. Berdasarkan eksperimen tersebut dapat ditarik kesimpulan:
– Setiap respon yang diikuti dengan penguatan (reward atau reinforcing stimuli) cenderung akan diulang kembali.
– Reward atau reinforcing stimuli akan meningkatkan kecepatan terjadinya respon.
3. Modelling dan Observational Learning
Bandura mengembangkan 4 tahap melalui pengamatan atau modeling
– tahap perhatian         => Individu memperhatikan model yang menarik, berhasil, atraktif dan populer.
– tahap retensi             => Bila guru telah mendapat perhatian dari siswa, guru memodelkan perilaku yang akan ditiru oleh siswa dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkannya atau mengulangi model yang telah ditampilkan.
– tahap reproduksi      => Siswa mencoba menyesuaikan diri dengan perilaku model.
– tahap motivasional    => Siswa akan menirukan model karena merasakan bhwa melakukan pekerjaan yang baik akan meningkatkan kesempatan untuk memperoleh penguatan.
Konsep penting lainnya dari teori belajar ini adalah pengaturan diri (self-regulation). Dalam kegiatan belajar ini, individu mengamati perilakunya sendiri, menilai perilakunya sendiri dengan standar yang dibuat sendiri, dan memperkuat atau menghukum diri sendiri apabila berhasil ataupun gagal dalam berperilaku.
4. Teori Koneksionisme
Teori ini dikembangkan oleh Edward Thorndike. Dia menggunakan kucing sebagai hewan percobaan. dalam eksperimennya, dia menghitung waktu yang dibutuhkan kucing untuk dapat keluar dari kandang pecobaan (puzzle box). Menurut Thorndike, dasar dari belajar adalah trial dan error. Hewan percobaan itu menunjukkan adanya penyesuaian diri dengan lingkungannya sedemikian rupa sebelum hewan percobaan tersebut dapat melepaskan diri dari kandang percobaan. Selanjutnya dikemukakan bahwa perilaku dari semua hewan percobaan itu praktis sama.
Thorndike mengemukakan 3 macam hukum belajar, yaitu:
a. Hukum kesiapan
Agar proses belajar mencapai hasil yang baik, maka perlu kesiapan dalam belajar. Ada 3 keadaan yang menunjukkan berlakunya hukum ini, yaitu:
– Apabila individu memiliki kesiapan untuk bertindak atau berperilaku dan dapat melaksanakannya, maka dia akan puas.
–   Apabila individu memiliki kesiapan untuk bertindak atau berperilaku tapi tidak dapat melaksanakannya, maka dia akan kecewa.
– Apabila individu tidak memiliki kesiapan untuk bertindak atau berperilaku dan dipaksa untuk melaksanakannya, maka akan menimbulkan keadaan yang tidak memuaskan.
b. Hukum latihan
Hubungan antara stimulus dan respon akan menjadi kuat apabila sering dilakukan latihan.
c. Hukum akibat
Apabila sesuatu memberikan hasil yang menyenangkan atau memuaskan, maka hubungan antara stimulus dan respon akan menjadi semakin kuat.
5. Teori Modifikasi Perilaku Kognitif
Meichenbaum menyatakan bahwa individu dapat diajarkan untuk memantau dan mengatur perilakunya sendiri. Cara yang digunakan yaitu melatih individu yang terganggu emosionalnya untuk membuat dan menjawab pertanyaannya sendiri. Ada 5 tahap kegiatan belajar mandiri yang dikembangkan Meichenbaum, yaitu:
a. Model orang dewasa melakukan tugas tertentu sambil berbicara dengan keras (Modeling kognitif)
b. Anak melakukan tugas yang sama di bawah arahan pembelajaran dari model (Bimbingan eksternal)
c. Anak melakukan tugas sambil membelajarkan diri sendiri.
d. Anak membelajarkan dirinya sendiri dengan cara berbicara pelan pada saat melanjutkan tugas.
e. Anak melakukan tugas untuk mencari kinerja tertentu dengan melakukan percakapan diri sendiri.
Teori belajar modifikasi perilaku koginitif ini menekankan pada modeling percakapan diri sendiri secara meningkat berpindah dari perilaku yang dikendalikan oleh orang lain kepada perilaku yang dikendalikan oleh diri sendiri, di mana individu menggunakan percakapan diri sendiri pada waktu melaksanakan tugas.
6. Teori belajar Conditioning
Guthrie menyatakan bahwa semua belajar dapat diterangkan dengan satu prinsip, yaitu prinsip asosiasi. Belajar merupakan suatu upaya untuk menentukan hukum-hukum, bagaimana stimulus dan respon itu berasosiasi. Guthrie menyatakan bahwa respon dapat menimbulkan stimuli untuk respon berikutnya. Perilaku manusia merupakan deretan perilaku yang terdiri atas unit-unit reaksi atau respon dari stimulus berikutnya.
Konsekuensi yang menyenangkan pada umumnya disebut sebagai penguat (reinforces), dan yang tidak menyenangkan disebut sebagai hukuman (punishers).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: