Posted by: sopwan hadi | June 14, 2010

Psikologi Pendidikan (3-habis)

BAB VIII

TEORI BELAJAR KOGNITIF

Teori belajar kognitif memandang belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses pengolahan informasi.

Yang termasuk teori belajar kognitif adalah:

1. Teori belajar Pengolahan Informasi

Gambar tersebut menunjukkan titik awal dan akhir dari peristiwa pengolahan informasi. Garis putus-putus menunjukkan batas antara kognitif internal dan dunia eksternal. Dalam model tersebut tampak bahwa stimulus fisik seperti cahaya, panas, tekanan udara, ataupun suara ditangkap oleh seseorang dan disimpan secara cepat di dalam sistem penampungan penginderaan jangka pendek. Apabila informasi itu diperhatikan, maka informasi itu disampaikan ke memori jangka pendek dan sistem penampungan memori kerja. Apabila informasi di dalam kedua penampungan tersebut diulang-ulang atau disandikan, maka dapat dimasukkan ke dalam memori jangka panjang.

Kebanyakan, peristiwa lupa terjadi karena informasi di dalam memori jangka pendek tidak pernah ditransfer ke memori jangka panjang. Tapi bisa juga terjadi karena seseorang kehilangan kemampuannya dalam mengingat informasi yang telah ada di dalam  memori jangka panjang. Bisa juga karena interferensi, yaitu terjadi apabila informasi bercampur dengan atau tergeser oleh informasi lain.

Ada 2 bentuk pelancaran dalam membangkitkan ingatan, yaitu:

– pelancaran proaktif       = Seseorang mengingat informasi sebelumnya apabila informasi yang baru dipelajari memiliki karakter yang sama.

– pelancaran retroaktif     = Seseorang mempelajari informasi baru akan memantapkan ingatan informasi yang telah dipelajari.

2. Teori belajar Kontruktivisme

Teori belajar Kontruktivisme memandang bahwa:

–   Belajar berarti mengkontruksikan makna atas informasi dari masukan yang masuk ke dalam otak.

–   Peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks ke dalam dirinya sendiri.

–   Peserta didik sebagai individu yang selalu memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan prinsip-prinsip yang telah ada dan merevisi prinsip-prinsip tersebut apabila sudah dianggap tidak bisa digunakan lagi.

–   Peserta didik mengkontruksikan pengetahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya.

Teori Kontruktivisme menetapkan 4 asumsi tentang belajar, yaitu:

–   Pengetahuan secara fisik dikonstruksikan oleh peserta didik yang terkibat dalam belajar aktif.

–   Pengetahuan secara simbolik dikonstruksikan oleh peserta didik yang membuat representasi atas kegiatannya sendiri.

–   Pengetahuan secara sosial dikonstruksikan oleh peserta didik yang menyampaikan maknanya kepada orang lain.

–   Pengetahuan secara teoritik dikonstruksikan oleh peserta didik yang mencoba menjelaskan obyek yang tidak benar-benar dipahaminya.

Thomas dan Rohwer menyajikan beberapa prinsip belajar yang efektif, yaitu:

– Spesifikasi                            => Sesuai dengan tujuan belajar dan karakteristik peserta didik.

– Pembuatan                           =>  Memungkinkan seseorang mengerjakan kembali materi yang telah dipelajari, dan membuat sesuatu menjadi baru.

– Pemantauan yang efektif       => Peserta didik mengetahui kapan dan bagaimana cara menerapkan strategi belajarnya dan bagaimana cara menyatakannya bahwa strategi yang digunakan itu bermanfaat.

– Kemujaraban personal         => Belajar akan berhasil apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Slavin menyarankan 3 strategi belajar efektif, yaitu:

– membuat catatan

– belajar kelompok

– menggunakan metode PQ4R (preview, question, read, reflect, recite, review)

BAB IX

TEORI BELAJAR HUMANISTIK

Teori belajar Humanistik memandang bahwa:

–   Fokus utamanya adalah hasil pendidikan yang bersifat afektif, belajar tentang cara- cara belajar dan meningkatkan kreativitas dan semua potensi peserta didik.

–   Hasil belajarnya adalah kemampuan peserta didik mengambil tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan menjadi individu yang mampu mengarahkan diri sendiri dan mandiri.

–   Pentingnya pendekatan pendidikan di bidang seni dan hasrat ingin tahu.

–   Pendekatan humanistik kurang menekankan pada kurikulum standar, perencanaan pembelajaran, ujian, sertifikasi pendidik dan kewajiban hadir di sekolah.

–   Pendekatan humanistik mengkombinasikan metode pembelajaran individual dan kelompok. Pendidik memiliki status kesetaraan dengan peserta didik.

–   Pendekatan humanistik memelihara kebebasan peserta didik untuk tumbuh dan melindungi peserta didik dari tekanan keluarga dan masyarakat.

–   Penggunaan pendekatan humanistik dalam pendidikan akan memungkinkan peserta didik menjadi individu yang beraktualisasi diri.

PRINSIP-PRINSIP BELAJAR

1. Swa arah

Prinsip swa arah menyatakan bahwa sekolah hendaknya memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memutuskan bahan belajar yang ingin dipelajari.

2. Belajar tentang cara-cara belajar

Sekolah hendaknya menghasilkan anak-anak yang secara terus menerus menumbuhkan keinginannya untuk belajar dan mengetahui cara-cara belajar.

3. Evaluasi diri

Evaluasi yang dilakukan sekolah atau pendidik yang diakhiri dengan kenaikan kelas dan kelulusan dipandang sebagai tindakan yang mengganggu aktivitas belajar peserta didik. Instrumen evaluasi yang diwujudkan dalam bentuk tes dipandang tidak relevan dengan pendekatan humanistik.

4. Pentingnya perasaan

Pendekatan humanistik tidak membedakan domain kognitif dan afektif dalam belajar. Kedua domain itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

5. Bebas dari ancaman

Belajar akan jadi lebih mudah, lebih bermakna dan lebih diperkuat apabila belajar itu terjadi dalam suasana yang bebas dari ancaman.

BAB X

MOTIVASI BELAJAR

Pentingnya motivasi belajar bagi siswa adalah:

– Menentukan terjadinya kegiatan belajar atau tidak pada diri siswa.

– Memperlancar belajar dan hasil belajar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar:

– sikap

– kebutuhan

– rangsangan

– afeksi (pengalaman emosional)

– kompetensi

– penguatan

TEORI MOTIVASI

1. Teori belajar Behaviorat

Motivasi merupakan produk dari sejarah penguatan. Peserta didik yang diperkuat untuk belajar akan termotivasi dalam belajar.

2. Teori kebutuhan manusia

Abraham Maslow menyampaikan teori manusia berdasarkan pada hierarki kebutuhan.

3. Teori Disonansi

Kebutuhan untuk mempertahankan citra diri yang positif merupakan motivator yang sangat kuat.

4. Teori Kepribadian

Motivasi yang stabil itu tidak dapat diubah, motivasi itu cenderung bersifat konstan pada berbagai situasi dan dalam jangka waktu cepat sukar untuk berubah.

5. Teori Atribusi

Teori ini berupaya untuk memahami penjelasan dan alasan-alasan perilaku, terutama apabila diterapkan pada keberhasilan atau kegagalan anak. Seperti halnya teori Disonansi, asumsi utama teori ini adalah bahwa seseorang akan berupaya mempertahankan citra diri yang positif.

Teori atribusi memegang peranan penting dalam memahami cara-cara peserta didik menafsirkan dan menggunakan balikan atas kinerja akademiknya dan memberikan saran kepada pendidik tentang cara-cara memberikan balikan sehingga memiliki nilai motivasional tinggi.

Untuk mengatasi kurangnya motivasi peserta didik, caranya adalah:

–  Mengkomunikasikan sisem penilaian yang akan diterapkan kepada peserta didik.

– Pendidik menyampaikan harapannya bahwa seluruh peserta didik dapat belajar dengan baik, dan menyatakan pula bahwa keberhasilan yang akan dicapai oleh peserta didik adalah tergantung pada usahanya sendiri.

–  Menerapkan pembelajaran individualisasi agar peserta didik dapat menilai kemajuannya sendiri.

6. Teori harapan

Motivasi anak untuk memperoleh sesuatu adalah tergantung dari produk dari estimasinya terhadap peluang mencapai keberhasilan (peluang yang diyakini untuk berhasil), dan nilai yang ditempatkan atas keberhasilan yang dicapai (nilai insentif yang diperoleh peserta didik atas keberhasilan yang dicapai)

7. Teori motivasi berprestasi

Teori ini antara lain mengenai kecenderungan untuk mencapai keberhasilan atau tujuan, dan melakukan kegiatan yang mengarah pada kesuksesan atau kegagalan.

Ciri peserta didik yang mempunyai motivasi berprestasi:

– Cenderung memilih partner belajar yang cakap dalam menjalankan tugas.

– Akan belajar lebih lama dibandingkan dengan peserta didik yang bermotivasi berprestasi rendah.

– Memiliki keinginan dan harapan untuk berhasil, dan apabila gagal mereka akan berusaha keras dalam mencapai keberhasilan.

Atkinson menyatakan bahwa individu dapat dimotivasi untuk berprestasi dengan cara memperoleh keberhasilan atau menghindari kegagalan. Bentuk ekstrim dari motif untuk menghindari kegagalan disebut ketidakberdayaan dalam belajar (learned helplesness). Ketidakberdayaan timbul dari inkonsistensi konsistenan, penggunaan penghargaan yang tidak dapat diprediksikan, dan hukuman yang diberikan oleh pendidik, sehingga peserta didik merasa kecil peluangnya untuk berhasil.

Untuk membantu peserta didik yang mengalami ketidakberdayaan dalam belajar perlu dilakukan:

– Penekanan pada tindakan positif.

– Pengurangan tindakan negatif.

– Berangkat dari pengenalan baru menggunakan kerangka cantolan atau diskoveri terbimbing.

– Penciptaan tantangan dalam belajar.

STRATEGI MOTIVASI BELAJAR

Cara yang dilakukan untuk membangkitkan motivasi intrinsik peserta didik adalah:

– Membangkitkan minat belajar.

– Mendorong rasa ingin tahu.

– Menggunakan variasi metode penyajian yang menarik.

– Membantu peserta didik dalam merumuskan tujuan belajar.

BAB XI

HAKEKAT PEMBELAJARAN

Pendidikan       : Bantuan kepada anak didik terutama pada aspek moral atau budi pekerti.

Pengajaran       : Bantuan kepada anak didik terutama pada aspek intelektual dan keterampilan.

Pembelajaran    : Seperangkat peristiwa yang mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa sehingga peserta didik tersebut memperoleh kemudahan.

Pendidikan, pengajaran dan pembelajaran mempunyai hubungan konseptual yang sama. Perbedaannya, pendidikan memiliki cakupan yang lebih luas yaitu mencakup pengajaran dan pembelajaran. Dan pengajaran merupakan bagian dari pembelajaran.

Teori belajar adalah konsep-konsep dan prinsip-prinsip belajar yang bersifat teoritis dan telah teruji kebenarannya melalui eksperimen. Sedangkan teori pembelajaran merupakan implementasi prinsip-prinsip teori belajar dan berfungsi untuk memecahkan masalah praktis dalam pembelajaran.

KOMPONEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN

1. Tujuan

2. Subyek belajar

3. Materi pelajaran

4. Strategi pembelajaran

5. Media pembelajaran

6. Penunjang (fasilitas belajar)

PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN

1. Prinsip pembelajaran teori behavioristik (Hartley & Davies)

Pembelajaran yang dapat menimbulkan proses belajar yang baik apabila:

– Peserta didik berpartisipasi secara aktif.

– Materi disusun dalam unit-unit kecil secara sistematis dan logis.

– Tiap respon peserta didik diberi balikan dan disertai penguatan.

2. Prinsip pembelajaran teori kognitif (Reilley & Lewis)

Pembelajaran akan lebih bermakna apabila:

– Menekankan makna dan pemahaman.

– Mempelajari materi tidak hanya proses pengulangan, tapi perlu disertai proses transfer secara lebih luas.

– Menekankan adanya pola hubungan.

– Menekankan pembelajaran prinsip dan konsep.

– Menekankan struktur disiplin ilmu dan struktur kognitif.

– Obyek pembelajaran seperti apa adanya.

– Menekankan pentingnya bahasa sebagai dasar pikiran dan komunikasi.

– Perlunya memanfaatkan pengajaran perbaikan yang lebih bermakna.

3. Prinsip pembelajaran teori humanisme

Belajar adalah memanusiakan manusia. Anak yang berhasil dalam belajar apabila dapat mengaktualisasi dirinya dengan lingkungan. Pengalaman dan aktivitas peserta didik merupakan prinsip penting.

4. Prinsip pembelajaran dalam rangka pencapaian ranah tujuan

* Prinsip pengaturan kegiatan kognitif

Pembelajaran hendaknya memperhatikan bagaimana mengatur kegiatan kognitif yang efisien.

* Prinsip pengaturan kegiatan afektif

Pembelajaran hendaknya memperhatikan dan mengaplikasikan tiga pengaturan kegiatan afektif, yaitu:

– Faktor conditioning=> perilaku pendidik yang berpengaruh terhadap rasa senang atau benci peserta didik terhadap pendidik.

– Faktor behavior modification=> pemberian penguatan seketika.

– Faktor human model=> contoh berupa orang yang dikagumi atau dipercayai peserta didik.

* Prinsip pengaturan kegiatan psikomotorik

Pembelajaran hendaknya memntingkan faktor latihan, penguasaan prosedur gerak-gerik, dan prosedur koordinasi anggota badan.

5. Prinsip pembelajaran teori kontruktivisme

Belajar adalah proses aktif peserta didik dalam mengkontruksi arti, wacana, dialog, pengalaman fisik. Dalam proses belajar tersebut terjadi proses asimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi yang sudah dipelajari. Prinsip dalam pembelajaran teori kontruktivisme adalah:

– Pertanyaan dan konstruksi jawaban peserta didik adalah penting.

– Berlandaskan beragam sumber informasi materi dapat dimanipulasi peserta didik.

– Pendidik lebih bersikap interaktif dan berperan sebagai fasilitator dan mediator.

– Program pembelajaran dibuat bersama peserta didik.

– Strategi pembelajaran, student-centered learning, dilakukan dengan belajar aktif, belajar mandiri, kooperatif dan kolaboratif.

6. Prinsip pembelajaran bersumber dari asas mengajar

* Mandigers

Agar anak mudah dan behasil dalam belajar pendidik perlu memperhatikan:

– Prinsip aktivitas mental=> Pembelajaran hendaknya menimbulkan aktivitas mental bagi siswa.

– Prinsip menarik perhatian=> Pembelajaran hendaknya menimbulkan hal yang menarik perhatian siswa.

– Prinsip penyesuaian perkembangan=> Bahan pengajarannya disesuaikan dengan perkembangan siswa.

– Prinsip appersepsi=> Mengkaitkan materi yang akan dipelajari dengan apa yang sudah diketahui.

– Prinsip peragaan=> Pendidik menggunakan alat peraga dalam mengajar.

– Prinsip aktivitas motorik=> Pembelajaran hendaknya menimbulkan aktivitas motorik bagi siswa.

– Prinsip motivasi=> Pendidik memberikan dorongan kepada siswa dalam pembelajaran

* Marsell

Pembelajaran yang sukses perlu memperhatikan:

– Prinsip konteks=> Pendidik menciptakan bermacam-macam hubungan dngan bahan pengajaran.

– Prinsip fokus=> Dalam membahas materi perlu memakai pokok bahasan senagai pusat bahasan.

– Prinsip sekuens=> Materi pengajaran disusun secara urut sistematis dan logis.

– Prinsip evaluasi=> Pendidik dalam mengajar tidak boleh meninggalkan kegiatan evaluasi.

– Prinsip individualisasi=> Pendidik memperhatikan adanya individu dari diri peserta didik.

– Prinsip sosialisasi=> Pendidik menciptakan suasana belajar yang menimbulkan adanya saling kerjasama antara peserta didik.

BAB XII

TEORI PEMBELAJARAN

PEMBELAJARAN MENURUT ALIRAN BEHAVIORISTIK

Menurut aliran ini, pembelajaran adalah upaya membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan dengan lingkungan dengan tingkah laku pembelajar. Oleh karena itu disebut juga pembelajaran perilaku.

Teori pembelajaran perilaku:

– Perlu diberikan penguatan untuk meningkatkan motivasi belajar.

– Pemberian penguatan bisa berupa penguat sosial (pujian), aktivitas (mainan) dan simbolik (uang, nilai).

– Hukuman dapat digunakan sebagai alat pembelajaran tapi perlu hati-hati.

– Perilaku belajar yang segera diikuti konsekuensi akan lebih berpengaruh.

– Pendidik dikatakan telah melakukan pembentukan bila memberikan penguatan dalam pengajarannya.

PEMBELAJARAN MENURUT ALIRAN KOGNITIF

1. Jean Piaget

Piaget mengemukakan 3 prinsip pembelajaran yaitu:

– Belajar aktif=> Menciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa belajar sendiri.

– Belajar lewat interaksi sosial=> Menciptakan suasana yang memungkinkan adanya interaksi antar siswa.

– Belajar lewat pengalaman sendiri=> Didasarkan pada pengalaman nyata.

2. JA Brunner

Menurut Brunner dalam pengajaran di sekolah hendaknya mencakup:

–   Pengalaman-pengalaman optimal untuk mau dan dapat belajar.

Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik agar memperoleh pengalaman optimal dalam proses belajar dan meningkatkan kemauan belajar.

–   Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal.

Pembelajaran hendaknya dapat memberikan struktur yang jelas dari suatu pengetahuan yang dipelajari anak-anak.

–   Perincian urutan penyajian materi pelajaran.

Pendekatan pembelajaran dilakukan dengan peserta didik dibimbing melalui urutan masalah, sekumpulan materi pelajaran yang logis dan sistematis untuk meningkatkan kemampuan dalam menerima, mengubah, dan menstranfer apa yang telah dipelajari.

–   Cara pemberian penguatan

Pujian atau hukuman perlu dipikirkan cara penggunaannya dalam proses belajar mengajar.

3. David Ausubel

Ausubel mengemukakan teori belajar bermakna (meaningful learning). Belajar bermakna adalah proses mengkaitkan informasi baru dengan konsep-konsep yang relevan dan terdapat dalam struktur kognitif seseorang.

Belajar bermakna timbul apabila:     – Materi yang akan dipelajari bermakna secara potensial.

– Anak yang belajar bertujuan melaksanakan belajar bermakna.

Ausubel mengajukan empat prinsip pembelajaran, yaitu:

–                                       Kerangka cantolan=> pendidik menggunakan bahan pengait untuk mengkaitkan konsep lama dengan konsep baru.

–   Diferensiasi progresif=> proses pembelajaran dimulai dari hal umum ke hal khusus.

–                                             Belajar superordinat=> proses struktur kognitif yang mengalami pertumbuhan ke arah deferensiasi.

–   Penyesuaian integratif=> Materi pelajaran disusun sedemikian rupa sehingga pendidik dapat menggunakan hierarki-hierarki konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi disajikan.

PEMBELAJARAN MENURUT ALIRAN HUMANISTIK

Pendidikan humanistik sangat mementingkan adanya rasa kemerdekaan dan tanggung jawab. Aliran ini mempunyai tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia agar manusia mampu mengaktualisasi diri sebaik-baiknya. Aliran humanistik tidak mempunyai teori belajar khusus, tetapi hanya bersifat ekletik, dalam arti mengambil teori yang sesuai (kognitif) asal tujuan pembelajaran tercapai. Peran pendidik dalam pendekatan humanistik adalah sebagai fasilitator belajar, yang tugasnya:

– Menciptakan iklim belajar.

– Memenui kebutuhan belajar peserta didik.

– Membantu mengungkapkan emosi peserta didik.

– Membantu belajar peserta didik.

Bentuk pembelajaran melalui pendekatan humanistik adalah bahwa peserta didik dituntut untuk selalu memotivasi diri. Untuk mencapai ke arah itu kegiatan belajar hendaknya mendorong peserta didik untuk belajar cara-cara belajar dan menilai belajarnya sendiri. Program pembelajaran yang diterapkan dalam pendekatan humanistik umumnya menggunakan kegiatan terbuka di mana peserta didik harus menemukan informasi, membuat keputusan, memecahkan masalah dan membuat produk sendiri. Dalam pendidikan humanistik, peserta didik tidak memiliki tempat duduk yang tetap seperti halnya pendidikan konvensional. Peserta didik dapat belajar mandiri atau belajar dengan kelompok.

PEMBELAJARAN MENURUT TEORI KONTEMPORER

Pembelajaran teori kontemporer yang dimaksudkan di sini adalah pembelajaran berdasarkan teori belajar kontruktivisme. Peserta didik harus aktif dalam mengkontruksi pengetahuan berdasarkan interaksinya dalam pengalaman belajar yang diperoleh. Dalam pembelajaran model ini pendidik dan peserta didik  sama-sama aktif. Strategi pembejaran tersebut dinamakan student centered learning strategies, yang wujudnya bisa berupa belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif & kolaboratif, generative learning dan problem based learning.

Model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan teori kontrukivisme yang terkenal samapi sekarang adalah pembelajaran kuantum (Quantum learning) yaitu pembelajaran yang mengorkestrasikan (mengubah, menyelaraskan, memberdayakan) berbagai interaksi yang berada di dalam dan di sekitar momen belajar dengan cara menyingkirkan hambatan belajar melalui cara dan alat yang tepat sehingga kemampuan dan bakat alamiah peserta didik menjadi kemampuan aktual.

BAB XIII

PEMBELAJARAN KONTRUKTIVISME DAN KONTEKSTUAL

PEMBELAJARAN KONTRUKTIVISME

Kontruktivisme merupakan teori psikologi tentang pengetahuan yang menyatakan bahwa manusia membangun dan memaknai pengetahuan dari pengalamannya sendiri. Esensi pembelajaran kontruktivistik adalah peserta didik secara individu menemukan dan mentranfer informasi yang kompleks apabila menghendaki informasi itu menjadi miliknya. Pembelajaran kontruktivistik memandang bahwa peserta didik secara terus-menerus memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan tersebut jika tidak sesuai lagi.

Untuk mendorong agar peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan belajar, maka:

– Suasana lingkungan belajar harus demokratis.

– Kegiatan pembelajaran berlangsung secara interaktif dan berpusat pada peserta didik.

– Pendidik mendorong peserta didik agar belajar mandiri dan bertanggungjawab atas kegiatan belajarnya.

Asumsi dalam pembelajaran kontruktivistik:

1. Mengenai peserta didik

– Peserta didik adalah individu yang bersifat unik. Mereka memiliki latar belakang dan kebutuhan yang unik pula.

– Kontruktivisme sosial mendorong peserta didik menghadirkan versi kebenarannya sendiri, hal ini karena dipengaruhi oleh latar belakang, kebudayaan atau pandangan tentang dunianya sendiri.

– Peserta didik perlu didorong untuk memiliki tanggung jawab belajarnya sendiri.

– Motivasi belajar peserta didik tergantung pada keyakinan peserta didik terhadap potensi belajarnya.

2. Mengenai pendidik

– Pendidik harus menyesuaikan diri dengan peran sebagai fasilitator dan bukan sebagai pendidik.

– Tugas fasilitator adalah membantu peserta didik memperoleh pemahaman tentang isi pembelajaran.

–  Karena pendidik sebagai fasilitator, maka peserta didik yang berperan aktif dalam pembelajaran.

3. Mengenai proses belajar

– Belajar merupakan proses aktif di mana peserta didik belajar menemukan prinsip, konsep dan fakta untuk dirinya sendiri.

– Tercipta interaksi yang dinamik antara tugas-pendidik-peserta didik.

4. Mengenai kolaborasi peserta didik

– Peserta didik dengan perbedaan keterampilan dan latar belakangnya, hendaknya berkolaborasi dalam melaksanakan tugas dan diskusi dalam rangka memperoleh pemahaman tentang kebenaran.

– Konteks merupakan pusat belajar. Pengetahuan yang tidak sesuai konteks tidak memberikan ketrampilan kepada peserta didik untuk menerapkan pemahamannya pada tugas-tugas yang bersifat autentik.

5. Mengenai asesmen

– Holt dan Willard-Holt menekankan konsep asesmen dinamik, yaitu cara menilai peserta didik yang berbeda dari penilaian konvensional. Belajar interaktif diperluas dengan proses asesmen.

– Pendidik hendaknya memandang asesmen sebagai proses interaksi dan kontinyu untuk mengukur prestasi belajar dan kualitas pengalaman belajar. Balikan yang dibuat melalui proses asesmen itu digunakan sebagai dasar pengembangan kegiatan berikutnya.

6. Mengenai pemilihan, cakupan dan urutan materi pelajaran

– Pengetahuan dipandang sebagai keseluruhan yang terpadu.

– Agar peserta didik benar-benar terlibat dalam proses pembelajaran, maka tugas dan lingkungan belajarnya hendaknya merefleksikan kompleksitas lingkungan, sehingga peserta didik mampu memfungsikan diri sampai akhir kegiatan belajar.

– Semakin terstruktur lingkungan belajar, semakin tidak mampu peserta didik membangun makna berdasarkan pemahaman konseptualnya. Fasilitator hendaknya menstrukturkan pengalaman belajar cukup untuk memastikan bahwa peserta didik memperoleh bimbingan yang jelas sehingga mampu mencapai tujuan belajar.

Pendekatan pembelajaran kontruktivistik menekankan pembelajaran dari atas ke bawah (top-down intruction). Peserta didik mulai memecahkan masalah yang kompleks kemudian menemukan keterampilan dasar yang diperlukan.

Pembelajaran yang memakai prinsip kontruktivisme adalah:

1. Diskaveri (discovery learning)

Dikembangkan oleh Jerome Brunner. Dalam pembelajaran diskaveri, pembelajaran harus mampu mendorong peserta didik untuk mempelajari apa yang telah dimiliki. Keuntungan pembelajaran ini adalah:

– Mampu memunculkan hasrat ingin tahu peserta didik dan memotivasi peserta didik untuk bekerja keras sampai menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul.

– Peserta didik belajar keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi informasi.

2. Penangkapan (reception learning)

Dikembangkan oleh David Ausubel. Dalam pembelajaran penangkapan, peserta didik tidak mengetahui apa yang penting atau relevan untuk dirinya sendiri, sehingga mereka memerlukan motivasi eksternal untuk melakukan kerja kognitif dalam mempelajari apa yang diajarkan di sekolah. Inti pendekatan belajar penangkapan adalah pengajaran ekspositori, yakni pembelajaran sistematik yang direncanakan oleh pendidik mengenai informasi yang bermakna (meaningful information). Pembelajaran ekspositori ini terdiri atas tiga tahap, yaitu:

– Penyajian Advance organizer

Merupakan pernyataan umum yang memperkenalkan bagian-bagian utama yang tercakup dalam urutan pengajaran.

– Penyajian materi atau tugas belajar

Merupakan penyajian materi pembelajaran baru dengan metode ceramah, diskusi, film atau menyajikan tugas-tugas belajar kepada peserta didik.

– Memperkuat organisasi kognitif

Caranya dengan mengkaitkan informasi baru ke dalam struktur yang telah direncanakan di dalam permulaan pelajaran, dengan cara mengingatkan peserta didik bahwa rincian yang bersifat spesifik itu berkaitan dengan gambaran informasi yang bersifat umum.

3. Belajar terbimbing (scaffolding)

Dikembangkan oleh Vgotsky. Scaffolding merupakan strategi pembelajaran yang berkaitan dengan dukungan kepada peserta didik dengan cara membatasi kompleksitas konteks dan secara perlahan-lahan mengurangi batas-batas tersebut karena peserta didik telah memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri dalam mengatasi kompleksitas konteks tersebut.

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar mengajar yang membantu peserta didik menghubungkan isi materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata serta memotivasi peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan nyata. Pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi peserta didik untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan  mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga peserta didik memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya.

Karakteristik pembelajaran konstektual adalah sebagai berikut:

– Proses pembelajarannya mencakup berbagai disiplin pengetahuan sehingga peserta didik memperoleh perspektif terhadap kehidupan nyata.

– Tujuan pembelajarannya berbasis pada:

* Standar disiplin pengetahuan yang ditetapkan secara nasional atau lokal oleh asosiasi profesi.

* Pengetahuan & keterampilan yang ditetapkan dalam tujuan memiliki daya guna dan kompetensi tertentu.

* Keterampilan berpikir tinggi seperti pemecahan masalah, berpikir kritis dan pembuatan keputusan.

– Pengalaman belajarnya mendorong peserta didik membuat hubungan konteks internal dan eksternal.

– Integrasi pendidikan akademik dan karier akan membantu peserta didik memahami isi materi pelajaran dan pemahaman tentang karier atau bidang kajian teknis tertentu.

Komponen pembelajaran kontekstual meliputi:

1. Kontruktivisme

2. Inkuiri (menemukan)

Menemukan merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasisi CTL (Contextual Teaching and Learning). Langkah-langkah kegiatan inkuiri adalah:                         – merumuskan masalah

– mengamati atau melakukan observasi

– menganalisis

– mengkomunikasikan atau menyajikan hasil

3. Questioning (bertanya)

Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis CTL

4. Masyarakat belajar

Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok dan antar yang tahu ke yang belum tahu.

5. Modeling (pemodelan)

Pendidik memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Ada  model yang bisa ditiru dan diamati peserta didik sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci.

6. Refleksi

Adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa lalu.

7. Penilaian autentik

Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan peserta didik. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik.

Prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual meliputi:

–   Prinsip saling ketergantungan

Prinsip ini mengajak peserta didik mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lain, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan alam.

–   Prinsip diferensiasi

Prinsip ini mengembangkan kreativitas dan mendorong keragaman dan keunikan antara peserta didik untuk bekerjasama dalam bentuk yang disebut simbiosis.

–   Prinsip pengaturan diri

Prinsip ini menyatakan bahwa kegiatan belajar diatur sendiri, dipertahankan sendiri dan disadari sendiri oleh peserta didik.

Pendekatan pada pembelajaran kontekstual meliputi:

1. Pembelajaran berbasis masalah

Merupakan pendekatan yang melibatkan peserta didik dalam pengkajian pemecahan masalah yang memadukan keterampilan dan konsep dari berbagai isi pelajaran.

2. Penggunaan keragaman konteks

Pengalaman pembelajaran kontekstual dapat diperkaya apabila peserta didik belajar keterampilan di berbagai lingkungan .

3. Pengelompokan peserta didik

Tujuannya adalah agar mereka mapu berbagi pengalaman dan informasi. Dalam pengelompokan peserta didik, anggotanya berasal dari berbagai macam konteks dan latar belakang agar mereka memiliki berbagai sudut pandang terhadap suatu masalah.

4. Dukungan belajar peserta didik mengatur diri sendiri

Dalam pembelajaran kontekstual diharapkan dapat mendorong peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dalam hal ini mereka mapu mencari, menganalisis, dan menggunakan informasi dengan sedikit atau tanpa bimbingan dari orang lain.

5. Pembentukan kelompok belajar saling ketergantungan

Peserta didik akan dipengaruhi dan akan memberikan kontribusi terhadap pengetahuan dan kepercayaan orang lain. Kelompok belajar dibangun untuk berbagi pengetahuan dan memberikan peluang kepada peserta didik untuk saling membelajarkan.

6. Menggunakan asesmen autentik

Asesmen belajar hendaknya berkaitan dengan metode dan tujuan pembelajaran. Asesmen autentik menunjukkan bahwa belajar terjadi, terpadu dengan proses belajar mengajar, dan memberikan kesempatan dan arah perbaikan kepada peserta didik. Asesmen autentik hendaknya digunakan untuk memantau kemajuan peserta didik dan memberikan informasi tentang kegiatan pembelajaran.

BAB XIV

ASESMEN HASIL BELAJAR

Asesmen merupakan proses mendokumentasikan pengetahuan, keterampilan, sikap dan keyakinan peserta didik untuk memperoleh informasi tentang apa yang diketahui, dilakukan dan dikerjakan peserta didik. Metode dan alat asesmen meliputi:

– observasi                           – skala penilaian

– proyek                               – asesmen mandiri oleh peserta didik

– laporan tertulis                    – tes tertulis

– review kinerja                    – asesmen portofolio

Evaluasi memiliki kesamaan dengan asesmen, dan kadang-kadang kedua istilah itu digunakan secara bergantian. Isi evaluasi dipandang lebih luas dibandingkan dengan asesmen. Asesmen dipandang sebagai proses pengukuran terhadap suatu karakteristik tertentu, seperti deskripsi tujuan. Sedangkan evaluasi dipandang sebagai proses pengukuran terhadap suatu karakteristik dan penentuan nilai atau harga suatu obyek.

Kegiatan asesmen pertama kali muncul di China pada tahun 206 SM ketika dinasti Han memperkenalkan ujian untuk membantu proses seleksi pegawai kerajaan.

Jenis-jenis asesmen, yaitu:

1. Asesmen formatif dan sumatif

Asesmen sumatif=> Dilaksanakan di akhir pembelajaran dan digunakan untuk membuat keputusan tentang kenaikan kelas peserta didik.

Asesmen formatif=> Dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Wujudnya berupa pemberian balikan atas pekerjaan peserta didik dan tidak dijadikan dasar penentuan kenaikan kelas.

Dalam konteks belajar asesmen sumatif dan normatif disebut dengan asesmen belajar.

2. Asesmen obyektif dan subyektif

Asesmen obyektif=> Bentuk pertanyaan yang memiliki satu jawaban benar.

Asesmen subyektif=> Bentuk pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban benar.

3. Asesmen acuan patokan dan acuan normatif

Asesmen acuan patokan=> Asesmen yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya menggunakan tes acuan patokan.

Asesmen acuan normatif=> Asesmen yang menggunakan tes acuan normatif dan tidak digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Asesmen ini dikenal dengan penentuan rangking berdasarkan kurve normal.

4. Asesmen formal dan informal

Asesmen formal=> Diwujudkan dalam bentuk dokumen tertulis dan diberikan skor dalam bentuk angka atau penentuan rangking berdasarkan kinerja peserta didik.

Asesmen informal=> Dilakukan dengan cara yang lebih terbuka seperti observasi, inventori, diskusi yang tidak dimaksudkan untuk menentukan rangking.

5. Asesmen autentik (Asesmen kineja)

Asesmen berbasis kinerja merupakan bentuk ujian di mana peserta didik menjawab suatu pertanyaan atau membuat produk dan mendemonstrasikan ketrampilan atau menampilkan kemampuan/pengetahuan. Wujudnya antara lain:

– tugas membuat proyek secara individual atau kelompok          – eksperimen ilmiah

– contoh tulisan atau karangan                                                   – portofolio

– memecahkan masalah terbuka                                                – simulasi komputer

– pertanyaan yang membutuhkan konstruksi jawaban                 – wawancara atau presentasi lisan

Tahap-tahap asesmen kinerja adalah:

– Mengidentifikasi hasil pembelajaran.

– Mengembangkan tugas-tugas untuk menemukan tujuan pembelajaran.

– Mengidentifikasi hasil belajar tambahan yang di dukung oleh tugas.

– Merumuskan kriteria dan tingkat kinerja untuk mengevaluasi kinerja peserta didik.

6. Asesmen portofolio

Asesmen portofolio merupakan bentuk evaluasi kinerja yang paling populer. Biasanya berbentuk file atau folder yang berisi koleksi karya peserta didik.

Tahap-tahap asesmen portofolio adalah:

a. Perencanaan dan pengorganisasian

– Mengembangkan perencanaan portofolio yang bersifat fleksibel.

– Merencanakan waktu secukupnya agar peserta didik mempersiapkan dan mendiskusikan aspek-aspek portofolio.

– Dimulai dengan satu aspek belajar dan hasil belajar peserta didik, kemudian semakin meningkat sejalan dengan apa yang dipelajari peserta didik.

– Memilih aspek yang dimasukkan di dalam portofolio yang mampu menunjukkan kemajuan peserta didik atau penguasaan tujuan pembelajaran.

– Memilih setidaknya dua aspek, yakni indikator yang diperlukan atau aspek-aspek inti dan sampel pekerjaan yang dipilih.

– Menempatkan daftar tujuan di depan masing-masing portofolio. Bersamaan dengan indikator yang dipersyaratkan dan tempat mencatat aspek-aspek pilihan.

b. Implementasi

– Melekatkan perkembangan aspek-aspek portofolio di dalam kegiatan kelas yang sedang berlangsung.

– Memberikan tanggung jawab kepada peserta didik untuk mempersiapkan, memilih, menilai dan menyimpan portofolionya sendiri.

– Membagi aspek-aspek portofolio yang telah dipilih.

– Mencatat komentar pendidik dan peserta didik dengan segera terhadap portofolio tersebut.

c. Hasil

– Menganalisis aspek-aspek portofolio untuk memahami pengetahuan dan keterampilan peserta didik.

– Menggunakan informasi portofolio itu untuk mendokumentasi kegiatan-kegiatan belajar peserta didik, untuk disampaikan kepada orang tua dan memperbaiki pembelajaran di kelas.

Prinsip-prinsip asesmen

–   Tujuan utama asesmen adalah memperbaiki belajar peserta didik.

–   Asesmen berujuan untuk mendukung belajar peserta didik.

–   Obyektif bagi semua peserta didik

–   Berkolaborasi secara profesional dengan sekelompok pendidik lain.

–   Melibatkan partisipasi komite sekolah dalam pengembangan asesmen.

–   Menjelaskan keteraturan dan kejelasan komunikasi mengenai peserta didik kepada peserta didik, keluarga dan masyarakat.

–   Meninjau dan memperbaiki asesmen.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: